Moh. Takdir

 


 "Bulonggo" dalam konteks Masyarakat Kaili adalah istilah idiomatis yang merujuk pada peran sentral perempuan dalam struktur keluarga, khususnya dalam hal ekonomi, sosial, dan politik. Perempuan dengan peran "Bulonggo" dianggap sebagai tulang punggung keluarga, yang bertanggung jawab atas pengontrolan sumber daya ekonomi dan memiliki pengaruh signifikan dalam berbagai aspek kehidupan keluarga.

Berikut adalah elaborasi lebih lanjut:

Peran Sentral:

Perempuan dengan peran "Bulonggo" memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan keluarga, termasuk dalam hal ekonomi, sosial, dan politik.

Pengontrolan Sumber Daya Ekonomi:

"Bulonggo" bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya ekonomi keluarga, baik itu pertanian, perdagangan, atau sumber daya lainnya.

Tanggung Jawab Ekonomi:

Perempuan dengan peran "Bulonggo" memainkan peran penting dalam memastikan kelangsungan hidup keluarga secara ekonomi.

Pengaruh Sosial:

Peran "Bulonggo" juga mencakup pengaruh sosial, di mana perempuan memiliki suara dan pengaruh dalam dinamika keluarga dan masyarakat.

Pengaruh Politik:

Dalam beberapa konteks, perempuan dengan peran "Bulonggo" juga memiliki pengaruh politik dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga dan bahkan masyarakat.

Buku karya Dr. Nisbah, S.Sos, M.Si, yang berjudul "Bulonggo; Makna Idiomatik Peran Perempuan Dalam Struktur Keluarga Pada Masyarakat Kaili", menjelaskan secara mendalam tentang peran dan makna "Bulonggo" dalam masyarakat Kaili. Buku ini mendapatkan apresiasi dari banyak kalangan, termasuk dosen dan mahasiswa, karena memberikan pemahaman yang komprehensif tentang peran perempuan dalam struktur keluarga Kaili.



NTINA-BULONGGO-TINA NGATA

 

NTINA adalah kelompok keluarga pemegang kekuasaan yang “NORAMBANGA” membantu dalam sistem pemerintahan (masa lalu). Disebut juga “BULONGGO”  atau Tulang Pungggung.

NTINA-BULONGGO merupakan persekutuan komunitas laki-laki dan perempuan (keluarga besar pengendali kekuasaan). Sedangkan khusus komunitas perempuan dalam budaya Kaili disebut  “TINA NGATA” atau “ Bunda Pertiwi”.

SAIKUNI KIRE, arti harfiahnya goresan kuning yang nampak dikening seseorang.

Dalam budaya Kaili “Saikuni Kire” ini dipahami sebagai ciri khas kewibawaan yang merupakan penampakan di wajah turunan “Darah Biru”.

 

Tugas “TINA NGATA” mendampingi “TOTUA NGATA” cukup signifikan bahkan relatif agak berat, karena harus mendampingi “Bulonggo” dengan bekal kemampuan:

“Ni Pangala Basa” mempunyai kemampuan memberikan keteladanan dalam hal satu kata dengan perbuatan, satu mulut dengan tindakan, tidak berkhianat, kata-katanya berwibawa dan ditaati.

“Pomboli Ada” menjadi sarana dan prasarana Adat Budaya bersama para pembantunya saat mempersentasikan Budaya Adat dalam even daerah, regional, nasional, bahkan manca negara.

“Potavari Bisa” mampu melakukan terobosan penyelesaian permasalahan dalam kondisi terdesak.

 

Label: edit post
0 Responses

Posting Komentar