"Bulonggo" dalam konteks Masyarakat
Kaili adalah istilah idiomatis yang merujuk pada peran sentral perempuan dalam
struktur keluarga, khususnya dalam hal ekonomi, sosial, dan politik. Perempuan
dengan peran "Bulonggo" dianggap sebagai tulang punggung keluarga,
yang bertanggung jawab atas pengontrolan sumber daya ekonomi dan memiliki
pengaruh signifikan dalam berbagai aspek kehidupan keluarga.
Berikut adalah elaborasi lebih
lanjut:
Peran Sentral:
Perempuan dengan peran
"Bulonggo" memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan
keluarga, termasuk dalam hal ekonomi, sosial, dan politik.
Pengontrolan Sumber Daya Ekonomi:
"Bulonggo" bertanggung
jawab atas pengelolaan sumber daya ekonomi keluarga, baik itu pertanian,
perdagangan, atau sumber daya lainnya.
Tanggung Jawab Ekonomi:
Perempuan dengan peran
"Bulonggo" memainkan peran penting dalam memastikan kelangsungan
hidup keluarga secara ekonomi.
Pengaruh Sosial:
Peran "Bulonggo" juga
mencakup pengaruh sosial, di mana perempuan memiliki suara dan pengaruh dalam
dinamika keluarga dan masyarakat.
Pengaruh Politik:
Dalam beberapa konteks, perempuan
dengan peran "Bulonggo" juga memiliki pengaruh politik dalam
pengambilan keputusan di tingkat keluarga dan bahkan masyarakat.
Buku karya Dr. Nisbah, S.Sos,
M.Si, yang berjudul "Bulonggo; Makna Idiomatik Peran Perempuan Dalam
Struktur Keluarga Pada Masyarakat Kaili", menjelaskan secara mendalam
tentang peran dan makna "Bulonggo" dalam masyarakat Kaili. Buku ini
mendapatkan apresiasi dari banyak kalangan, termasuk dosen dan mahasiswa,
karena memberikan pemahaman yang komprehensif tentang peran perempuan dalam
struktur keluarga Kaili.
NTINA-BULONGGO-TINA NGATA
NTINA adalah kelompok keluarga
pemegang kekuasaan yang “NORAMBANGA” membantu dalam sistem pemerintahan (masa
lalu). Disebut juga “BULONGGO” atau Tulang Pungggung.
NTINA-BULONGGO merupakan persekutuan komunitas laki-laki dan perempuan (keluarga besar pengendali kekuasaan). Sedangkan khusus komunitas perempuan dalam budaya Kaili disebut “TINA NGATA” atau “ Bunda Pertiwi”.
SAIKUNI KIRE, arti harfiahnya goresan kuning yang nampak dikening seseorang.
Dalam budaya Kaili “Saikuni Kire” ini dipahami sebagai ciri khas kewibawaan yang merupakan penampakan di wajah turunan “Darah Biru”.
Tugas “TINA NGATA” mendampingi
“TOTUA NGATA” cukup signifikan bahkan relatif agak berat, karena harus
mendampingi “Bulonggo” dengan bekal kemampuan:
“Ni Pangala Basa” mempunyai kemampuan memberikan keteladanan dalam hal satu kata dengan perbuatan, satu mulut dengan tindakan, tidak berkhianat, kata-katanya berwibawa dan ditaati.
“Pomboli Ada” menjadi sarana dan
prasarana Adat Budaya bersama para pembantunya saat mempersentasikan Budaya
Adat dalam even daerah, regional, nasional, bahkan manca negara.
“Potavari Bisa” mampu melakukan
terobosan penyelesaian permasalahan dalam kondisi terdesak.


Posting Komentar